Linggar Noorartri Swastika Anggraini, 1986. Indonesian. Javanese culture addict. Traditional dance passionately. Dreamer writer. Beach traveler. Photography lover. Flying foxer. Fun biker.
Pagi #13
:
Hmmm…
19 Februari 2013,
Swasti Ang.
Pagi #12
:
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kosong.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
12 Februari 2013,
Swasti Ang.
Pagi #11
:
Selamat Pagi,
Tuan Pagi.
Tadi kita berjumpa lagi.
Tapi, jauh.
Dan kaku.
Dan berjarak.
Dan kau lagi-lagi tertidur.
Tidak seperti diriku.
Dengan bodohnya menahan kantuk.
Hanya untuk melihat keluguanmu.
Memang, masih bodoh!
11 Februari 2013,
Swasti Ang.
Pagi #10
:
Minggu.
Dan masih seperti biasanya.
Di rumah.
Kesiangan.
Selamat (Pagi) pukul 07.00 yang empuk!
Mari bersulang.
10 Februari 2013,
Swasti Ang.
Pagi #9
:
Cuma sedikit yang bisa aku ceritakan di pagi hari ini.
Aku masih lelah, tapi aku harus jauh dari libur.
Meski hanya sampai pukul 14.00.
Tapi, sore selalu lebih cepat dari yang kita kira.
10 Februari 2013,
Swasti Ang.
Pagi #8
:
Dan, aku selalu cinta di pagi hari jumat.
Karena sebagai tanda lonceng akhir pekan segera berdentum.
Ya, fase kehidupan sebagai buruh akhirnya aku rasakan.
Libur itu sangat menolong kejenuhan.
Dan, aku selalu menemukan libur di akhir pekan.
Meski tak semulus jalanan ke rumah tuan presiden.
Tapi, aku akan selalu cinta di pagi hari jumat.
Atau,
Apakah sorenya aku akan bertemu Tuan Pagi saat pulang?
Berharap.
10 Februari 2013,
Swasti Ang.
Pagi #7
:
Sejujurnya aku lupa pagi itu.
Aku cukup banyak yang tertinggal.
Tapi, aku rasa, rasanya sama saja.
Datar.
Hanya saja sudah disambut debu kala itu.
Karena aku lagi malas membereskan yang berserakan di sekitarku.
10 Februari 2013,
Swasti Ang.
Pagi #6
:
Tuan Pagi.
Beberapa hari ini entah mengapa aku tersadarkan kalau kita selalu berdekatan.
Kemarin kita duduk berdampingan.
Hari ini pun berdampingan.
Kau asyik dengan smartphone-mu.
Kalau aku nakal, aku berani curi-curi pandang dengan isi layar telepon genggammu itu.
Tapi, aku terlalu gengsi.
Malah sibuk dengan pemandangan langit pagi yang masih malu-malu.
Pagi #5
:
Tuan Pagi.
Entah ada angin apa pagi itu engkau menegurku duluan.
Biasanya kaku.
Dingin dan beku.
Hanya kehangatan yang sama-sama kita rasa di dalam angkutan yang mengantarkan kita mengejar waktu pagi yang sempit.
Tapi, pagi itu kau memandangku lama.
Dan penuh keraguan untuk tegur sapa.
Namun, dasar aku yang lincah.
Dengan percaya dirinya tersenyum dan lalu kau sapa.
Perasaan aneh pun muncul di dadaku.
Ah, pagi itu jantungku mulai berdegup tak seperti biasanya, tuan.
10 Februari 2013,
Swasti Ang.